Menu
X

Category Archives: Tak Berkategori

image

Pelayanan Gereja

Sebut saja dia Jono. Seorang guru agama Kristen di sebuah sekolah menengah negeri yang cukup terkenal. Beberapa tahun terakhir ini dia semakin giat dengan apa yang dia sebut sebagai panggilan pelayanan. Entah mengapa semakin banyak saja undangan untuk menyampaikan khotbah atau membawakan renungan di berbagai acara persekutuan dan gereja yang dia terima.

Jono begitu bersemangat, baginya ini adalah kepercayaan yang besar dari Tuhan untuk dirinya. Penampilannya pun berubah. Sekarang dia lebih sering terlihat mengenakan kemeja lengan panjang celana kain lengkap dengan dasi dibandingkan baju safari. Satu stel jas selalu dia siapkan di mobilnya. Pantang bagi Jono menolak undangan khotbah yang dia terima. “Firman harus disampaikan siap atau tidak siap waktunya”. Mungkin itu semboyan dia. Sekarang dia mendapat titel baru Ev. Jono .

Perubahan Jono sebenarnya kurang bisa diterima oleh beberapa rekan guru di tempatnya mengajar saat ini. Bahkan banyak muridnya yang mengeluh. Karena Jono lebih sering meninggalkan jam-jam dimana dia seharusnya mengajar, menggantikannya dengan setumpuk tugas yang selalu ia titipkan ke guru jaga. Tapi begitulah Jono, bahkan ketika berdiri di antara barisan guru saat upacara bendera pun dia terlihat berbeda. Lebih mirip manajer daripada guru. Beberapa kali mendapat teguran kiri kanan, Jono tetap stabil meskipun digunjingkan dia tidak bergeming sebab dia akan siap dengan jawaban “atas nama pelayanan”. Gunjingan dan pengucilan adalah harga yang harus dibayar dan salib yang harus dipikul.

Suatu hari mungkin kita pernah menghadapi atau bertemu dengan Jono-jono yang lain. Alasan dan cara Jono menanggapi kesempatan melayani Tuhan memang tidak seratus persen salah. Hanya saja dia belum mengetahui makna dari melayani seperti maksud Tuhan. Jono lupa bahwa tugasnya sebagai guru juga adalah pelayanan. Tuhan tidak melihat besar kecilnya apa yang kita kerjakan, yang Tuhan lihat adalah bagaimana sikap dan tanggung jawab kita terhadap pekerjaan kita itu. Setiap manusia menjalankan beberapa peran dan tugas dalam hidupnya baik dalam pekerjaan, sebagai orangtua, sebagai anak, sebagai istri maupun sebagai suami. Tuhan ingin agar manusia bisa menjalankan semua peran yang mereka miliki dengan seimbang. Yang satu tidak boleh lebih penting dari yang lain. Jono lupa akan tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan Tuhan dan dipercayakan kepadanya tugas sebagai guru, pelayanan sebagai penginjil tidak lebih mulia dari ugas sebagai guru. Keberhasilan pelayanan Jono menimbulkan ketidak seimbangan yang menyebabkan batu sandungan bagi orang lain. Mungkin sudah saatnya bagi Jono untuk memutuskan mengundurkan diri sebagai guru dan mendedikasikan dirinya menjadi pelayan Tuhan penuh waktu. Dengan demikian dia akan memiliki fokus pelayanan yang jelas. Dan tidak lagi menjadi batu sandungan. Memang tetap ada kemungkinan untuk bisa kedua-duanya dilakukan bersamaan, tapi terbukti Jono tidak mampu.

Menjadi militan dihadapan Tuhan memang suatu keharusan. Dan Tuhan senang dengan kesungguhan dan keteguhan hati kita mencari Dia dan dalam pelayanan kita kepada-Nya. Tapi jika sikap militan kita justru mendatangkan syak menimbulkan ketidak seimbangan diantara peran-peran yang menjadi tugas dan tanggung jawab yang harus kita pikul yang akhirnya menmbulkan batu sandungan, maka sudah pasti ada yang salah.

Lebih baik kita belajar setia dengan perkara kecil yang diberikan Tuhan kepada kita dari pada mencoba meraih perkara besar yang kita sendiri tidak mampu melakukannya bukan?

Sumber : artikel.sabda.org

image

Mazmur 23: 1-3a, Sebuah Catatan Kekayaan Sekaligus Keindahannya

Ketika itu anak saya baru satu. Setiap malam saya menemani anak saya tidur. Kesempatan itu adalah kesempatan emas. Saya memperdengarkan dia ayat Firman Tuhan. Satu ayat diulang-ulang sampai beberapa malam. Akhirnya dia dapat menghafal satu ayat. Berikutnya saya ganti dengan ayat yang lain. Di lain kesempatan saya menggunakan satu pasal. Jadi ayat hafalannya bersambung dari satu frasa ke frasa berikutnya sampai membentuk satu pasal. Pasal apa itu? Mazmur 23. Jikalau anak usia belasan bulan dan bisa menghafalkan Mazmur 23 waw…itu terlihat dan terasa lucu sekali.

Saya tidak bertanya apakah Anda menghafal atau tidak Mazmur 23 itu. Tetapi, apakah Anda punya pengalaman dengan Mazmur 23?

Satu dua orang Kristen tidak punya banyak ayat hafalan, tetapi mereka tahu dan menghafal Mazmur 23. Sehingga ketika ada sesuatu yang mendesak dan darurat yang dia bisa ucapkan adalah Mazmur 23 sebagai landasan imannya sekaligus sebagai penghiburan yang ampuh.

Saya hendak mencatat kembali apa yang pernah saya dengar atau bahkan saya kotbahkan dari Mazmur 23.

Mazmur 23 ini diapit oleh Mazmur 22 dan Mazmur 24. Anda tahu bagaimana dan apa Mazmur 22 dan Mazmur 24?

Mazmur 22 dijuluki sebagai mazmur salib.
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mazmur 22:2). Frasa ini dikutip oleh Tuhan Yesus ketika Dia di atas kayu salib.

Apa yang dicatat dalam ayat 8, ayat 9, dan ayat 19 dari Mazmur 22 ini digenapi pada peristiwa penyaliban Tuhan Yesus.

Dan bagaimana dengan Mazmur 24? Mazmur 24 dijuluki sebagai mazmur Raja Kemuliaan. Mazmur ini adalah sebuah Mazmur yang ditulis Daud yang mengungkapkan pengakuan imannya bahwa Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya (ayat 1) adalah Raja Kemuliaan (ayat 7, 8,9,10). Ada pengulangan frasa yang bisa kita simpulkan bahwa itu adalah sebuah penegasan bahwa Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan.

Mazmur 23 diapit oleh mazmur salib dan mazmur Raja Kemuliaan. Seakan memberitahu kita bahwa salib bukanlah akhir segalanya bagi orang yang beriman. Belum titik. Masih ada lanjutannya, yaitu Mazmur 23. Bahkan Mazmur 23 ini pun akan mengalami klimaksnya pada Mazmur 24.

Dan jikalau Anda teliti membacanya, baik Mazmur 22, maupun Mazmur 23, dan Mazmur 24 ditulis oleh satu orang saja yaitu Daud. Jangan bertanya berapa banyak asam garam yang dikecap Daud. Saya yakin bahwa Daud bukan hanya mengecap asam garam saja. Dia juga mengecap susu dan madu di dalam perjalanan imannya.

Baiklah, berikut ini adalah pembahasan detil dari Mazmur 23, hanya sampai ayat 3a saja.

Ayat 1, TUHAN adalah gembalaku,
Kata Tuhan ditulis dengan huruf kapital semua. Itu menunjuk kepada Yahwe. Tuhan yang tidak berubah. Apanya yang tidak berubah? KuasaNya dan kasihNya juga janjiNya.

Satu dekade yang lalu di mana-mana ada WARTEL (konteks kota Malang). Dengan menyediakan sedikit ruangan disertai satu pesawat telpon maka WARTEL menjadi usaha yang menjanjikan. Apakah benar? Tidak. Itu sungguh tidak benar. Masa berganti masa. HP adalah pesawat yang banyak dimiliki orang sehingga boleh dikatakan semua WARTEL sekarang tutup. Bumi berputar dan dunia ini sungguh berubah amat cepat, bahkan perubahannya tidak dapat kita prediksi.

Tetapi syukurlah bahwa ada TUHAN yang tidak berubah kuasaNya dan kasihNya yang bisa dan yang patut kita andalkan di segala masa dan di setiap musim.

Saya pernah opname di rumah sakit sebanyak tiga kali. Ketiganya kasusnya sama yaitu operasi caesar. Tiga anak dilahirkan di rumah sakit yang berbeda. Dengan pertolongan tiga dokter yang berbeda. Dengan kondisi kantong yang berbeda. Tetapi saya bersyukur bahwa Tuhan yang sama selalu hadir di masa yang berbeda dan musim yang berbeda.

Tahun ini adalah tahun ke sepuluh saya bekerja di lembaga ini. Selama itu, ruang kerja saya berpindah sudah empat kali. Selain itu sudah empat kali berganti orang yang menjadi pimpinan saya. Lain orang lain gaya kepemimpinannya dan tentu lain juga kebijakannya. Tetapi saya bersyukur bahwa Tuhan yang sama selalu hadir di ruang yang berbeda. Kendati pimpinan kita berganti orang tetapi Tuhan yang sama selalu hadir di situasi dan kondidi yang berbeda.

Ada masa saya tinggal di desa. Di masa lain saya tinggal di kota. Ada masa saya harus berpindah kota. Ada masa saya punya banyak teman baik. Dan ada juga masa saya harus mencari teman. Ada masa saya sendiri dan sungguh-sungguh sendiri. Tetapi saya bersyukur bahwa Tuhan yang sama selalu hadir kendati saya punya banyak teman atau bahkan saya tidak punya teman.

Metafora TUHAN sebagai gembala juga digunakan di dalam Perjanjian Baru oleh Tuhan Yesus sendiri. Dia mengatakan, “Akulah Gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yohanes 10:11). Kualitas baik itu menunjuk kepada sebuah pengorbanan bahkan pengorbanan nyawa.

Masih di frasa yang sama, TUHAN adalah gembalaku, ada penulisan ‘ku’. Ini menunjuk pada pengalaman pribadi Daud. Bukan apa kata orang. Juga bukan apa kata iklan. Bahkan bukan kata pejabat.

Frasa selanjutnya, takkan kekurangan aku, Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Seekor domba tidak akan berhenti memakan rumput jikalau dia tidak benar-benar kenyang. Jikalau domba sungguh-sungguh kenyang maka barulah domba itu berbaring. Domba yang berbaring di rumput hijau menggambarkan memang kondisinya berlimpah, dia sungguh-sungguh terpuaskan. Tuhan Yesus menggunakan kalimat lain yang artinya senada. “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yohanes 10:10).

Betapa pun keadaan kita, sesungguhnya hidup di dalam Tuhan itu nikmat jika kita menjalani hidup ini dengan penuh syukur. Dan sebaliknya, hidup ini terasa berat jika kita jalani dengan penuh sungut-sungut. Memang tidak semua hari adalah hari baik. Tetapi setiap hari selalu ada perkara yang baik. Benar bukan?

Ada dogeng tentang pedagang topi. Anda pernah mendengarnya? Baiklah saya ceritakan dogeng itu. Ada seorang bapak yang pekerjaan sehari-harinya berdagang topi. Dia membawa banyak topi untuk maksud dijual. Walaupun pekerjaannya sebagai pedagang topi tetapi bapak itu berpenampilan rapi. Dia memakai sepatu, celana panjang, kemeja dan jas. Bahkan dia memakai dasi kupu. Dari penampilan yang seperti itu bisa disimpulkan bahwa dia bukan tipe orang yang sembarangan saja.

Dia punya cara sendiri untuk menjual topi-topi. Dia tidak mau membawa tas yang besar untuk diisi banyak topi. Dia punya cara yang unik. Dia menyusun topi-topi yang sama warnanya. Paling bawah 4 topi kotak-kotak selanjutnya 4 topi coklat ditambah 4 topi abu-abu dan yang paling atas 4 topi merah. Jumlah semua topi yang akan dijual ada 16 topi. Dan dia sendiri memakai topi. Jadi semuanya ada 17 topi. 17 topi itu jika ditumpuk menjadi panjang sekali. Di bawah topi adalah kepalanya.

Dengan cara yang unik itu dia berjalan berjualan topi sambil berteriak-teriak, “Topi ! Topi ! Hanya lima ribu saja. Topi ! Topi !” Tentu saja dia harus selalu berjalan tegak agar topi-topi sebanyak 17 topi yang di atas kepalanya itu tidak jatuh berantakan.

Berteriak-teriak dari satu jalan ke jalan lain. Waktu berlalu dengan tidak menggembirakan hatinya karena tidak satu pun orang yang membeli topinya. Jangan bertanya apakah dia haus. Jangan bertanya apakah dia lapar. Jangan pula bertanya bagaimana rasa lelahnya.

Dia tahu bahwa dia tidak bisa singgah membeli bakso. Dia juga sadar bahwa dia tidak bisa berhenti sejenak sekedar minum es degan yang ditawarkan di pinggir jalan. Karena kantongnya masih kosong.

Akal sehatnya mengantar langkah kakinya menuju pohon yang besar. Dengan perlahan dan hati-hati dia duduk di bawah pohon itu. Dengan tetap 17 topi ada di atas kepalanya dia duduk di bawah pohon itu. Dia sandarkan punggungnya pada dahan pohon besar itu. Dengan angin sepoi-sepoi dan tentu udaranya sejuk karena di bawah pohon banyak oksigennya maka dia tertidur dengan tenang. Kendati dengan posisi duduk bersandar namun karena terasa nyaman dan tenang maka tidurnya pulas dan lama.

Mentari tak segan bergeser ke barat walaupun tampak lambat tetapi pasti. Menit menit bertambah menjadi akumulasi jam. Sore datang menyambut. Lalu bapak itu membuka matanya tanda dia sudah terjaga dari tidurnya. Tanpa berpikir seakan refleks saja maka bapak itu merentangkan tangannya sambil menggoyangkan kepalanya. Selanjutnya hanya sekejap saja tersadarlah dia. Apa yang dia sadari? Dia merasa aneh karena tidak ada satu topi pun yang terjatuh dari arah atas kepalanya.

Selanjutnya dengan satu tangan dia meraba atas kepalanya. Tangannya memeriksa. Disimpulkan hanya ada satu topi saja. Otaknya segera aktif berpikir. Mungkin saja angin meniup topi-topinya. Lalu dia terbangun dari duduknya dan dia periksa dengan matanya di bagian belakang pohon itu. Tak ada satu topi pun. Dia periksa di sekelilingnya dan tak ada satu topi pun.

Bagaimana ini? 16 topi hilang. Belum satu topi pun laku malahan sekarang hilang. Gawat ini. Apa yang sudah terjadi? Rasa bersalah disertai seribu pertanyaan. Lalu dia mendengar suara. Dia berpikir bahwa itu suara monyet. Dia tengok ke atas. Dan kau tahu ada apa? Apa yang sedang terjadi? Di atas pohon itu ada banyak monyet. Satu monyet memakai satu topi. Dan semua topi itu adalah topi barang dagangannya.

Dia merasa lega karena setelah dia hitung jumlahnya ternyata ada 16. Tetapi bagaimana caranya supaya 16 topi itu bisa kembali padanya? Dia tidak punya pengalaman memanjat pohon maka dia memutuskan untuk tidak memanjat pohon. Resikonya terlalu besar. Terlebih dia tidak punya kesanggupan menanggung resiko sekecil apa pun jika dia memanjat pohon.

Salah satu cara adalah berkomunikasi dengan monyet-monyet itu. Dia berkata, “Kenapa kalian mengambil topiku? Topi itu akan kujual. Ayo kembalikan!” Apakah monyet-monyet itu mengerti?
Tak satu pun yang mengembalikan topinya.

Lalu dia bicara dengan kalimat serupa sambil menunjuk-nunjuk. Semua monyet menirunya. Semua monyet menunjuk-nunjuk.

Dia sambung dengan kalimat senada. Untuk ekspresinya dia ganti. Dia kepalkan kedua tangannya sambil ditekan-tekan suranya. Setiap kata dia tekan. “Kembalikan topiku!” Nadanya nada marah. Apakah topinya dikembalikan? Tidak. Semua monyet tak mengerti maksudnya. Tetapi semua monyet menirukan gayanya. Semua monyet mengepalkan kedua tangannya.

Wah…bagaimana ini? Marahnya tak reda, jengkelnya bertambah. Bapak itu menghentak-hentakkan kakinya di tanah. Pula dia berteriak, “Kembalikan topikuuuuuu !” Ternyata monyet itu semua memperhatikan bapak itu dengan saksama. Semua monyet menghentak-hentakkan kakinya di atas pohon.

Sambil berputus asa marahnya berlipat. Tanpa disengaja. Hanya sebagai ekspresi marah saja. “Uhhhhh….. dikasih tahu…. tidak tahu…..” sembari dia melempar topi yang ada di kepalanya. Kau tahu apa yang terjadi? Kau tahu?

Semua monyet dari atas pohon melempar topi. Semua topi berjatuhan dari atas pohon itu. Waw….giranglah bapak itu. Legalah rasanya. Padahal dia tadi sudah berputus asa.

Lupalah dia bahwa dia tadi kelaparan. Sirnalah rasa hausnya. Musnahlah rasa jengkelnya.

Walaupun hari itu tak ada satu topi pun yang laku tetapi langkah pulangnya menjadi ringan. Setidaknya topi yang sebentar hilang itu sekarang masih utuh. Masih ada perkara yang layak untuk disyukuri.

Memang tidak semua hari adalah hari baik. Tetapi setiap hari selalu ada perkara yang baik. Benar bukan?

Ada ungkapan lain yang membesarkan kita bahwa, “Walaupun aku tidak memiliki apa-apa, asal saja aku memiliki Engkau Tuhan, itu sudah segalanya bagiku.”

Ada seorang pemuda yang kesibukannya sebagai penginjil muda di Suku Tengger. Dia jatuh hati kepada seorang gadis peranakan asal Surabaya yang menjadi guru di Desa Nongkojajar. Setelah beberapa kali pemuda itu membawa oleh-oleh bunga dari hutan maka pemuda itu mengumpulkan segala keberaniannya untuk melamar gadis itu. Apa yang dia bawa? Engkau tahu, apa yang dia bawa? Dia hanya membawa satu kalimat saja. Tanpa hadiah-hadiah. Tanpa buah-buah. Tanpa kalung. Hanya satu kalimat saja. Begini bunyi kalimat itu, “Saya tidak punya apa-apa, tapi saya punya Tuhan.” Singkat cerita mereka menikah dengan dasar satu kalimat iman.

Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Salah satu kelemahan domba ialah dia penakut. Dia takut arus air. Jadi jika gembala menggiring domba ke sebuah sungai, maka domba-domba itu tidak langsung minum air sungai itu. Gembala membendung dulu sungai itu. Mungkin dengan batu yang besar. Air terasa tenang dan tak ada arus. Barulah domba-domba itu bisa minum.

Berulang kali di Alkitab ditulis frasa, “jangan takut”. Frasa itu ada 365 kali. Jadi seakan setiap hari Tuhan memberi manusia vitamin jangan takut. Tuhan sangat mengerti bahwa manusia seringkali takut. Bahkan masuk dalam rencana ilahi pun manusia takut. Malaikat Tuhan nampak kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Yusuf anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” (Matius 1:20).

Ia menyegarkan jiwaku
Bukan hanya apa yang nampak dalam kasat mata saja yang menjadi perhatian dan pekerjaan gembala. Gembala juga peduli dengan apa-apa yang tidak terlihat secara kasat mata. Dia peduli kondisi kejiwaan domba-domba. Yang letih lesu dan berbeban berat diberiNya kelegaan.

Bukankah satu janji mengidupkan seribu pengharapan?
Bukankah satu firman menuntun sepanjang jalan?
Bukankah satu kasih menafkahi sepanjang hidup?
Bukankah satu nyala lilin menggembirakan di tengah pekatnya gelap?
Bukankah satu pintu terbuka sanggup menghapus seribu putus asa?
Bukankah satu kesembuhan menyalakan sejuta semangat hidup?
Bukankah satu tangisan melonggarkan nafas?
Bukankah satu payung melindungi dari ribuan tetes air hujan?
Bukankah satu tangga membuatmu lebih tinggi?
Bukankah satu hadiah membuatmu merasa berharga?
Bukankah satu penjelasan mengurai keruwetan?
Bukankah sepasang telinga membersihkan keruhnya lubuk hati?

Anda bisa menambahkan daftar itu supaya lebih panjang.

Berikut adalah catatan yang beredar di WA saya:

Dollar sudah tembus di angka 14 ribu-an ( Kurs Dollar hari ini. Kamis, 19 November 2015. Kurs BI : 13.718,00/13.856,00). Karena nilai USD yang trendnya melonjak terus terhadap rupiah, maka mulai sekarang sebaiknya jangan pakai bahasa Inggris dulu. Supaya tidak boros.

Nih buktinya…betapa bahasa Inggris bisa merubah dagangan menjadi muahalll

Contohnya:
Kopi item 2.000
Black coffee 15.000

Pijet 30.000
Massage 300.000

Air dingin 500
Cold drink 8.500

Ayam goreng 5.000
Fried Chicken 27.000

Pecel 7.000
Salad with peanut sauce 22.000

Rusun pinggir kali 70 juta
Riverside Apartment 650 juta

Bahkan untuk tanah pemakaman
Tanah kusir 2,5 juta
Sandiego Hill 65 juta

Ada lagi nih,
6 Apel = 12 ribu
Apple 6 = 12 juta

Tuhan adalah gembalaku bagi yang minum kopi item. Tuhan adalah gembalaku bagi yang minum black coffee. Tuhan adalah gembalaku bagi yang membutuhkan 6 apel. Tuhan adalah gembalaku bagi yang membutuhkan Apple 6.

Tuhan adalah gembalaku, tak kan kekurangan aku.
Sungguh dan sesungguhnya, Tuhan adalah gembalaku, tak kan kekurangan aku.

Sumber : artikel.sabda.org

image

Allah Orang Kristen (Ajaran Tentang Allah Trinitas dalam Alkitab)

Siapakah Allah orang Kristen? Apakah Ia sama dengan Allah yang dikenali dan disembah agama-agama lain? Pertanyaan ini benar-benar sensitif! Orang Kristen mengklaim bahwa Allah Trinitarian adalah satu-satunya Allah yang hidup dan benar, klaim ini bukan suatu bentuk arogansi rohani, tetapi lebih merupakan manifestasi dari iman yang lahir dari ajaran Alkitab.

Allah Trinitas adalah sebuah doktrin yang mendasar bagi iman Kristen; Kepercayaan atau ketidakpercayaan pada Trinitas menandai Kekristenan sejati atau bukan. Namun demikian penalaran manusia tidak dapat memahami Trinitas, demikian pula logika tidak dapat menjelaskannya. Meskipun kata “Trinitas” tidak terdapat dalam Alkitab, tetapi doktrin itu secara gamblang diajarkan di Alkitab. Sejarah meneguhkan kebenaran ajaran Trinitas ini, sekalipun sejak abad gereja mula-mula telah timbul ajaran yang berusaha untuk menentang ajaran Trinitas ini.



DEFINISI TRINITAS 

Istilah “Trinitas” berasal dari kata Inggris “triunity” merupakan gabungan dari kata “tree” yang berarti “tiga” dan “unity” yang berarti “kesatuan”. Jadi kata ini digunakan untuk menekankan kesatuan di antara pribadi dalam Trinitas tetapi juga menekankan keterpisahan dan kesetaran dari tiga pribadi dalam Trinitas. Sebuah definisi yang baik tentang Trintas menyatakan “Ada satu Allah yang benar dan satu-satunya, tetapi di dalam keesaan dari Keallahan ini ada tiga Pribadi yang sama kekal dan setara, sama di dalam hakekat tetapi beda di dalam Pribadi” (Ryrie, Teologi Dasar, Jilid 1, hal. 72).

Memang, tidaklah mudah membuat definisi dari Trinitas, hal ini dikaitkan dengan perlunya keseimbangan penekanan dari keesaan (ketunggalan) dan ketigaan (kejamakan) Allah. Penekanan yang berlebihan pada keesaan atau ketigaan dapat menyebabkan kekeliruan dan kesesatan. Alkitab jelas menunjukkan adanya “ketunggalan Allah” dan juga menunjukkan adanya “kejamakan Allah”. Karena itu, dua sikap ekstrim yang keliru yang harus dihindari, yaitu:

Pertama, sikap ekstrim yang terlalu menekankan “kejamakan dalam diri Allah” dan mengabaikan “kesatuanNya”. Sikap ini mengakibatkan menjadi “Tritheisme”, yaitu kepercayaan kepercayaan kepada tiga Allah. Ini salah, karena mengabaikan ketunggalan Allah, berarti mengabaikan sebagian dari Kitab Suci.

Kedua, sikap ekstrim yang menekankan “kesatuan Allah” dan mengabaikan “kejamakan dalam diri Allah”. Kita tidak bisa hanya menyoroti ayat-ayat yang menunjukkan ketunggalan Allah, dan lalu mengatakan bahwa Allah itu tunggal secara mutlak. Ini keliru dan menyebabkan “Monoteisme Unitarian”. Karena kalau kita melakukan hal itu, lalu apa yang akan kita lakukan dengan ayat-ayat yang menunjukkan adanya kejamakan dalam diri Allah? Membuangnya? Mengabaikannya? Ini tentu tidak mungkin dilakukan oleh orang yang mempercayai Alkitab sebagai Firman Tuhan!

Ajaran Allah Trinitas merupakan satu-satunya jalan untuk mengharmoniskan ayat-ayat Alkitab yang menyatakan ketunggalan dan kejamakan Allah tersebut. Jika kita mau menerima doktrin Allah Trinitas, maka kita bisa mengharmoniskan kedua kelompok ayat tersebut. Kalau kita menolak doktrin Allah Trinitas, ini berarti kita harus menghadapi kontradiksi (pertentangan) dalam Alkitab yang tidak mungkin bisa diharmoniskan. 

PENTINGNYA MENGERTI AJARAN TENTANG TRINITAS

Yakub B. Susabda dalam buku Bergaul dan Mengenal Allah menyebutkan tiga alasan mengapa pengenalan akan Allah Trinitas ini penting, yaitu:

Pertama, Allah orang Kristen adalah Allah yang hanya mau dikenal dan disembah sebagai Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah memang esa, tetapi mengenak keesaanNya saja tidaklah menyelamatkan. Seluruh rencana keselamatan Allah hanya daat dipahami dan diimani dalam hubungan dengan keunikan diri Allah, penyingkapan diriNya yang progresif, rencana dan cara kerjaNya. Allah ingin kita mempercayai dan mengimani Dia bukan hanya sebagai Allah yang esa, yang mengingatkan dan mengajarkan jalan keselamatan dan kehidupan yang diperkenanNya, tetapi ia menginginkan kita mengenalNya sebagaimana Dia ada, yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus dengan keunikanNya masing-masing. Alkitab menegaskan bahwa bahwa Allah tidak mungkin dapat dikenali diluar dari apa yang Dia sendiri singkapkan (Matius 16:17; Bandingkan Yohanes 14:6; 15:16).

Kedua, iman kepada Allah Trinitas adalah salah satu keunikan iman Kristen yang membedakannya dari iman semua agama-agama lain. Tanpa pengenalan akan Ketrinitasan Allah, perbedaan antara iman Kristen dengan iman agama-agama lain akan menjadi kabur. Demi membangun jembatan komunikasi dan semangat kesatuan serta toleransi, kita tidak boleh mengorbankan ajaran essensial Allah Trinitas ini hanya supaya kita bisa diterima oleh pemeluk kepercayaan agama-agama lainnya. Alkitab menegaskan bahwa diluar kepercayaan kepada Allah Trinitas tidak ada keselamatan (1 Yohanes 4:2-3). 
Ketiga, pengenalan tentang Allah Trinitas bukanlah pengenalan rasional tetapi pengenalan iman yang lahir kebenaran Alkitab. Penalaran manusia tidak dapat memahami Trinitas dengan tuntas, demikian pula logika tidak dapat menjelaskannya dengan tuntas. Tetapi karena Alkitab menyatakannya maka kita menerimanya. 

PANDANGAN KELIRU TENTANG TRINITAS

Gereja di dalam sejarahnya telah menentang ajaran-ajaran yang salah dari para penentang Trinitas. Pada berbagai abad yang telah dilewati beberapa orang telah membentuk konsep-konsep yang salah dan tidak Alkitabiah tentang Trinitas. Pandangan-pandangan keliru tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam lima pandangan utama, yaitu:

1. Triteisme. Pandangan ini menolak keesaan Allah dan percaya pada tiga Allah. Dalam sejarah gereja mula-mula, John Ascunages dan John Philoponus mengajarkan bahwa ata tiga Allah dan ketiganya berhubungan dalam asosiasi yang bebas. Kesalahan dari pengajaran ini karena meninggalkan kesatuan di antara trinitas sebagai akibatnya mereka mengajarkan tiga Allah bukan tiga pribadi diantara para Allah. Pandangan ini sama dengan Hinduisme yang memiliki dewa tiga serangkai yaitu: Brahma, Wusnu dan Syiwa, tetapi pandangan ini sama sekali berbeda dari pandangan Kristen Alkitabiah tentang Trinitas. Trinitas Kristen bukan bahwa Allah itu tiga dalam pengertian yang sama dengan pengertian keesaanNya. Allah bukanlah tiga pribadi dan pada pengertian yang sama adalah satu pribadi; juga Allah bukanlah tiga Allah dan satu Allah pada pengertian yang sama. Ajaran Trinitas Kristen mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah yang berdistingsi dalam tiga pribadi; Ia adalah tiga pribadi dalam satu Allah.

2. Monarkianisme. Monarkianisme adalah pendahulu dari Sabellianisme. Monarkianisme mengajarkan bahwa Allah Anak hanyalah merupakan mode lain dari pernyataan Allah Bapa. Ada dua bentuk dari Monarkianisme, yaitu Adopsionisme dan Modalisme. Dalam bentuk adopsianistiknya, Monarkianisme yang diajarkan oleh Theodotos dari Byzantium (210 AD) memandang Yesus sebagai manusia yang diberikan kekuatan oleh Roh Kudus pada saat baptisanNya. Dalam bentuk modalistiknya, Monarkianisme mengajarkan bahwa satu Allah yang secara beragam memanifestasikan dirinya dalam tiga bentuk atau mode keberadaan (Modalisme). Di Gereja Barat, Monarkianisme yang modalistik dikenal sebagai Patri-passianisme. Nuetus dan Praxeas adalah pemimpin-pemimpin dalam gerakan ini yang mengajarkan Patripassianisme, yaitu Allah Bapa yang berinkarnasi di dalam Anak juga menderita di dalam Anak, di saat penyaliban. Di Gereja Timur, Monarkianisme yang modalistik dikenal dengan Sabellianisme.

3. Sabellianisme. Sabellius dari Ptolemais (200 AD) menyatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah tiga bentuk eksistensi atau tiga manifestasi dari satu Allah. Menurut Pandangan ini, Trinitas bukan berkaitan dengan natur Allah, tetapi hanya cara Allah dalam menyatakan diriNya. Pandangan ini mengajarkan bahwa sebagai Bapa, Allah adalah Pencipta dan Pemberi Hukum; sebagai Anak, Allah adalah Penyelamat; sebagai Roh Kudus, Allah melahirkan kembali dan menguduskan. Atau dengan cara lainnya, Sebellianisme mengajarkan bahwa Allah dikenal sebagai Bapa dalam Perjanjian Lama, sebagai Anak dalam kitab-kitab Injil; dan sebagai Roh Kudus untuk zaman ini. Sabellianisme dalam setiap kasus, percaya pada satu Pribadi saja yang mewujudkan diri dengan tiga cara. Pandangan ini juga dikenal sebagai trinitas ekonomi, yaitu: satu Allah yang mewujudkan diriNya dalam jabatan-jabatan berbeda pada ekonomi (administrasi/dispensasi) yang berbeda. Di Gereja Timur, Sabellianisme juga dikenal sebagai Monarkianisme yang modalistik. Sabellius ini diikuti oleh Abelard (1079-1142 AD) yang menyatakan bahwa nama Bapa untuk menyatakan kuasa; Putra untuk menyatakan hikmat; Roh Kudus untuk menyatakan kebaikan.

4. Arianisme. Arius, seorang Penetua yang anti trinitarian dari Alexadria mengajarkan Allah yang kekal yang esa dari Anak yang diperanakkan oleh Bapa, dan karena itu, Anak memiliki permulaan (diciptakan). Jadi Arius mengsubordinasikan Anak pada Bapa. Ia juga mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah yang pertama diciptakan oleh Anak, karena segala sesuatu dijadikan oleh Anak. Arius beranggapan bahwa Allah Bapa adalh satu-satunya yang sama sekali tidak mempunyai permulaan. Bapa menciptakan Anak dan Roh Kudus dari ketiadaan sebagai tindakan penciptaan wal. Anak disebut Allah karena Ia datang langsung dari Allah dan sudah diberi kusa untuk menciptakan. Arius dan ajarannya dinyatakan sesat pada konsili Nicea tahun 325 AD.

5. Socinianisme. Socinus, pada abad keenam belas mengajarkan pandangan yang mirip dengan Arianisme. Socinianisme mengajarkan bahwa adalah keliru untuk mempercayai Pribadi-Pribadi dari Trinitas memiliki satu hakikat yang esa. Paham ini mengajarkan bahwa hanya ada satu zat ilahi yang terdiri hanya satu Pribadi. Walau mengikuti Arius, tetapi Socinus melampaui Arianisme dalam penyangkalannya tentang pra eksistensi Anak dan menganggap Anak hanya seorang manusia. Socinus mendefinisikan Roh Kudus sebagai kebajikan atau tenaga (energi) yang mengalir (keluarg) dari Allah kepada Manusia. Charles C. Ryrie, menyatakan “Pandangan Socianisme ini mempengaruhi Unitarianisme Inggris dan Deisme Inggris. Kebanyakan penganut Unitarianisme bukan penganut Deisme, tetapi semua penganut Deisme mempunyai konsep Unitarian tentang Allah. Garis bidat adalah Arianisme ke Socianisme ke Unitarianisme ke Deisme. Unitarianisme Amerika adalah turunan langsung dari Unitarianisme Inggris” (Ryrie, Teologi Dasar, Jilid 1, hal. 78).

Pandangan modern yang keliru tentang Trinitas bervariasi. Tetapi tidak ada hal yang baru lagi. Semua kesalahan yang dilakukan oleh teolog-teolog modern sudah pernah terjadi sebelumnya.

PENJELASAN YANG BENAR TENTANG TRINITAS

Secara ringkas kita menggambarkan bahwa “Allah adalah satu dalam esensi dan tiga dalam substansi”. Formula ini memang merupakan misteri dan paradoks tetapi tidak kontradiksi. Suatu kontradiksi akan muncul jika kita mengatakan bahwa “Allah adalah satu dalam esensi dan tiga dalam esensi; atau Allah adalah tiga substansi dan satu subtansi pada saat yang sama dan dalam pengertian yang sama”. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esensiNya atau keberadaanNya, sedangkan keragamannya diskspresikan dalam tiga substansi atau pribadi. Berikut ini merupakan ringkasan ajaran tentang Trinitas.

Pertama, Allah adalah satu dalam esensi. Esensial kesatuan dari Allah didasarkan pada Ulangan 6:4, “dengarlah, hai orang Isreal: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Kata “esa” adalah kata Ibrani “echad” yang berarti “gabungan kesatuan; satu kesatuan”. Pernyataan ini menekankan bukan hanya keunikan dari Allah tetapi juga kesatuan dari Allah (Bandingkan Yakobus 2:19). Ini berarti bahwa ketiga Pribadi secara esensi tidak terbagi. Kesatuan dari esensi ini juga menekankan bahwa ketiga Pribadi dari Trinitas tidak berarti bertindak secara mandiri dan terpisah. Pernyataan ini penting dalam menangkal ajaran sesat Arianisme dan Socianisme yang menolak kesatuan esensi Anak dan Roh Kudus dengan Bapa.

Kedua, Allah adalah tiga dalam dalam pribadi. Walau istilah “Pribadi” cenderung menimbulkan pemahaman keliru tentang kesatuan dalam Trinitas, tetapi kata ini terus dipertahankan karena tidak ada kata lain yang lebih mendekati kebenaran yang disingkapkan Alkitab tentang Allah Trinitas ini. Istilah “Pribadi” banyak menolong dalam menjelaskan Trinitas, karena kata itu menekankan bukan hanya suatu manifestasi tetapi juga pribadi sebagai persona (individu). Dengan menyatakan bahwa Allah adalah tiga dalam kaitan dengan pribadi hal ini menekankan bahwa (1) adanya distingsi persona dalam Keallahan; (2) setiap Pribadi memiliki esensi yang sama dengan Allah; dan (3) setiap Pribadi memiliki kepenihan Allah. Jadi, Dalam Allah tidak ada tiga pribadi bersama dan terpisah satu sama lain, tetapi hanya perbedaan pribadi diantara esensi Ilahi. Pernyataan tersebut merupkan suatu perbedaan yang penting dari Modalisme atau Sabellianisme, yang mengajarkan bahwa satu Allah hanya memanifestasikan diriNya dalam tiga cara yang berbeda.

Ketiga, Ketiga Pribadi memiliki relasi yang berbeda. Diantara Trinitas ada suatu relasi yang diekspresikan dalam arti subsistensi. Bapak tidak dilahirkan dan tidak berasal dari Pribadi manapun; Anak secara kekal berasal dari Bapa (Yohanes 1:18; 3:16,18; 1 Yohanes 4:9). Istilah-istilah yang digunakan untuk menjelaskan relasi diatara Trinitas adalah “generatio” dan “prosesi”. Istilah “generation” digunakan untuk menjelaskan bahwa dalam relasi Trinitas Anak secara kekal lahir dari Bapa, Roh Kudus secara kekal berasal dari Bapa dan Anak (Yohanes 14:26; 16:7). Istilah “prosesi” digunakan untuk menjelaskan relasi Trinitarian Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa istilah-istilah ini digunakan untuk menjelaskan relasi di antara Trinitas dan tidak untuk menunjukkan bahwa salah satu pribadi lebih rendah dari pribadi-pribadi lainnya.

Keempat, Ketiga Pribadi setara dalam kekekalan dan otoritas. Meskipun istilah “generatio” dan “prosesi” dapat digunakan dalam hubungan dengan fungsi di antara Trinitas, adalah penting untuk menyadari bahwa ketiga Pribadi adalah secara dalam kekekalan dan otoritas. Bapa diakui sebagai kekal dan berotoritas paling tinggi (1 Korintus 8:6); Anak juga diakui setara dengan Bapa dalam segala hal (Yohanes 5:21-23); Demikian juga Roh Kudus diakui setara dengan Bapa dan Anak (Matius 12:31) 

DASAR-DASAR ALKITAB BAGI AJARAN TRINITAS 

Dasar-Dasar Bagi Ajaran Trinitas dalam Perjanjian Lama:

Teks-teks Perjanjian Lama berikut ini memang tidak tuntas dalam menjelaskan Trinitas tetapi mengindikasikan konsep Trinitas di dalam Perjanjian Lama.

1. Penggunaan kata Ibrani “????? – Elohim” untuk Allah (Kej 1:1 dan ayat lainnya) yang merupa¬kan kata bentuk jamak merupakan indikasi pertama tentang Trinitas dalam Perjanjian Lama. 
Kata “Elohim” adalah bentuk jamak dari kata benda untuk Allah orang Israel. Kata “Elohim” ini mempunyai bentuk tunggal yaitu “???? – Eloah” yang digunakan antara lain dalam Ulangan 32:15-17; Mazmur 19:32; dan Habakuk 3:3. Tetapi dalam Perjanjian Lama kata “Eloah” hanya digunakan sebany¬ak 250 kali, sedangkan kata “Elohim” sekitar 2500 kali. Penggunaan kata bentuk jamak yang jauh lebih banyak ini menunjukkan adanya “kejamakan dalam diri Allah”. Jika memang Allah itu tunggal secara mutlak, mengapa tidak digunakan kata Eloah secara konsisten? Dan mengapa justru menggunakan Elohim jauh lebih banyak dari Eloah? Dengan demikian penggunaan kata Elohim untuk menyebut nama Allah mengindikasikan adanya Trinitas. Jadi, Alkitab menggunakan kata Eloah untuk menyatakan ketunggalan Allah dalam esensiNya, dan Elohim untuk menyatakan kejamakan Allah dalam pribadiNya.

2. Penggunaan kata bentuk jamak untuk Allah atau dalam relasinya dengan Allah. 
“Berfirmanlah Allah (bentuk tunggal) : ‘Baiklah Kita (bentuk jamak) menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita (bentuk jamak), supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26). “Berfirmanlah TUHAN Allah: ‘Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita (jamak), tahu tentang yang baik dan yang jahat; …” (Kejadian 3:23a). “Baiklah Kita (jamak) turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing” (Kejadian 11:7).

Ada yang mengatakan bahwa pada waktu Allah menggunakan kata “Kita” dalam Kejadian 1:26, maka saat itu Ia sedang berbicara kepada para malaikat. Jadi bukan menunjukkan “kejamakan dalam diri Allah”. Tetapi ini mustahil, sebab jika dalam Kejadian 1:26 diartikan bahwa “Kita” itu menunjuk kepada “Allah dan para malaikat”, maka haruslah disim¬pulkan bahwa: manusia juga diciptakan menurut gambar dan rupa malaikat; Allah mengajak para malaikat untuk bersama-sama menciptakan manusia, sehingga kalau Allah adalah pencipta, maka malaikat adalah rekan pencipta. Pandangan Kristen menganggap pemakaian kata “Kita” menunjukkan bahwa pribadi-pribadi dalam Allah Tritunggal itu berbicara satu dengan yang lain, dan ini menunjukkan adanya “kejamakan tertentu dalam diri Allah”.

3. Beberapa ayat dalam Kitab Suci membedakan Allah yang satu dengan Allah yang lain (seakan-akan ada lebih dari satu Allah).
“Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran… sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu” (Mazmur 45:7-8). Karena dalam ayat ini Alkitab Indonesia kurang tepat terjema¬hannya, mari kita lihat terjemahan NASB di bawah ini. “Thy throne, O God, is forever and ever … Therefore God, Thy God has anointed Thee” (TahtaMu, Ya Allah, kekal selama-lamanya. … Karena itu, Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau). Ibrani 1:8-9 mengutip ayat ini, “Tetapi tentang Anak Ia berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.
“Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit” (Kejadian 19:24). TUHAN (YHWH), yang saat itu ada di bumi, menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN (YHWH), dari langit. Jadi kelihatannya ada dua TUHAN (YHWH), satu di bumi, satu di langit.

4. Penampilan dari Malaikat TUHAN (Kejadian 16:2-13 22:11,16 31:11,13 48:15,16 Keluaran 3:2,4,5 Hakim-hakim 13:20-22).
Istilah “Malaikat TUHAN” ini juga menunjukkan bahwa “Malaikat TUHAN” (the Angel of the LORD) ini tidak sama dengan Allah. Tetapi, sekalipun dalam bagian-bagian tertentu Malaikat TUHAN itu disebut sebagai Malaikat TUHAN, dalam bagian-bagian lain Ia juga disebut sebagai Allah / TUHAN sendiri. Sebagai contoh, dalam Kej 16:7,9,10,11, disebut sebagai Malaikat TUHAN; tetapi dalam Kejadian 16:13 disebut sebagai TUHAN sendiri. 
Contoh lainnya, dalam Kejadian 22:11a, disebut sebagai “Malaikat TUHAN”; tetapi dalam Kejadian 22:11b-12, disebut sebagai “Tuhan” atau “Allah” sendiri. Sekalipun dalam ayat 11 disebut sebagai “Malaikat TUHAN”, tetapi dalam ayat 11b disebut “Tuhan” oleh Abraham. Dan dalam ayat 15, “Malaikat TUHAN” itu berseru, tetapi dalam ayat 16 dikatakan “firman TUHAN”. Lalu dalam ayat 16 Malaikat TUHAN itu bersumpah demi diriNya sendiri. Seorang malaikat biasa akan bersumpah demi nama Tuhan, bukan demi dirinya sendiri atau menggunakan namanya sendiri (bandingkan: Daniel 12:7; Ibrani 6:13,16-17; Wahyu 10:5-6). Jadi jelas bahwa Malaikat TUHAN itu adalah Tuhan / Allah sendiri.
Juga, dalam Kel 23:20-23, malaikat TUHAN ini mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa. Dari kata-kata “namaKu ada di dalam dia”, kita menganggap bahwa malaikat ini adalah Malaikat Perjanjian, yaitu Yesus Kristus sendiri. Semua ini menunjukkan bahwa Malaikat TUHAN itu adalah Allah atau TUHAN sendiri.

5. Seruan rangkap tiga (trisagion) dalam doa dan berkat keimaman Harun mengindikasikan Trinitas. 
Penggunaan nama “TUHAN” (YHWH) tiga kali berturut-turut dalam Bilangan 6:24-26 dan sebutan “kudus” bagi Allah tiga kali berturut-turut dalam Yesaya 6:3 dan Wahyu 4:8. Tidakkah mengherankan bahwa ayat-ayat itu menyebutkan “TUHAN” dan “kudus” sebanyak tiga kali? Mengapa tidak tiga kali, atau lima kali, atau tujuh kali? Jelas karena ada hubungannya dengan Allah Trinitas!

6. Penggunaan kata “esa” dalam Ulangan 6:4 menunjukkan Trinitas. 
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN (YHWH) itu Allah kita (Eloheynu), TUHAN (YHWH) itu esa!” (Ulangan 6:4). Kata “esa” yang digunakan disini dalam bahasa Ibraninya adalah “ekhad” yang menunjuk kepada “satu kesatuan yang mengandung makna kejamakan; dan bukan satu yang mutlak”.

Kata “ekhad” ini sering berarti “satu gabungan (a compound one)”, bukan “satu yang mutlak (an absolute one)”. Berikut ini contoh-contoh dari penggunaan kata “ekhat”. Kejadian 1:5, “Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama (yom ekhad)”. Gabungan dari petang dan pagi membentuk satu (ekhad) hari. Kejadian 2:24, Adam dan Hawa menjadi satu (ekhad) daging. “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:24). Bilangan 13:23, “Ketika mereka sampai ke lembah Eskol, dipotong merekalah di sana suatu cabang dengan setandan buah anggurnya, lalu berdualah mereka menggandarnya; juga mereka membawa beberapa buah delima dan buah ara”. Frase “Setandan buah anggur”, atau “satu (ekhad) tandan buah anggur” berati satu tandan buah anggur yang pasti terdiri dari banyak buah anggur.

Sebetulnya ada sebuah kata lain dalam bahasa Ibrani yang berarti “satu yang mutlak (an absolute one)” atau “satu-satunya”. Kata itu adalah “yakhid”. Contoh penggunaan kata “yakhid” ini dapat dilihat dalam Kejadian 22:2,16 – “FirmanNya: ‘Ambillah anakmu yang tunggal (yakhid) itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.’ … kataNya: ‘Aku bersumpah demi diriKu sendiri – demikianlah firman TUHAN – : Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal (yakhid) kepadaKu”.

Jika Musa ingin menekankan tentang “kesatuan yang mutlak” dari Allah dan bukannya “kesatuan gabungan” (a compound unity), maka pastilah ia akan menggunakan kata yakhid dan bukan¬nya ekhad untuk kata esa dalam Ulangan 6:4 tersebut. Kenyataannya, Musa menggunakan kata ekhad dalam ayat tersebut, hal ini pasti menunjukkan bahwa Allah itu tidak satu secara mutlak, tetapi ada kejamakan dalam diri Allah.

Dasar-Dasar Bagi Ajaran Trinitas Dalam Perjanjian Baru

Perjanjian Baru memberikan pernyataan yang lebih jelas tentang pribadi-pribadi yang berbeda dalam diri Allah. Berikut secara ringkas bagian-bagian Perjanjian Baru dimana Trinitas diajarkan.

1. Perjanjian Baru menunjukkan ketiga pribadi Allah itu dengan lebih jelas, dan juga menyetarakan Mereka. (Yohanes 5:31,32,37). 
Yohanes 5:31 menunjukkan Yesus sebagai “saksi”, dan Yohanes 5:32,37a menunjukkan Bapa sebagai “saksi yang lain”, dimana untuk kata-kata “yang lain” digunakan kata bahasa Yunani “allos”. Ada dua kata Yunani yang berarti “yang lain”, yaitu “allos” dan “heteros”. Tetapi kedua kata ini ada bedanya. Kata “allos” menunjuk pada “yang lain” dari jenis yang sama; Sedangkan “heteros” menunjuk pada “yang lain” dari jenis yang berbeda. Sebagai contoh, saya mempunyai satu botol minuman sprite. Jika saya mengingin¬kan satu botol sprite “yang lain”, yang sama dengan yang ada pada saya ini, maka saya akan menggunakan kata “allos”. Seandainya saya menghendaki minuman “yang lain”, misalnya fanta, maka saya harus menggunakan “heteros”, bukan “allos”. Jadi pada waktu Yesus disebut sebagai saksi, dan Bapa sebagai Saksi yang lain, dan kata ‘yang lain’ itu menggunakan allos, maka itu menunjukkan bahwa Yesus mempunyai kwalitet atau jenis yang sama dengan Bapa, dan ini membuktikan bahwa Yesus adalah Allah!
Hal yang sama terjadi antara Yesus dan Roh Kudus. Yesus disebut “Pengantara” atau “Parakletos” (1 Yohanes 2:1), dan Roh Kudus disebut “Penolong” atau “Parakletos” yang lain (Yohanes 14:16). Janji Tuhan Yesus untuk mengirin seorang Penolong (Parakletos) “yang lain” disini berarti seorang yang lain dari Pribadi Trinitas. Di sini untuk kata-kata “yang lain” juga digunakan “allos”, yang menunjukkan bahwa Yesus dan Roh Kudus mempunyai jenis atau kualitas yang sama. Dengan demikian Bapa, Anak, dan Roh Kudus mempunyai jenis atau kualitas yang sama, dan semua ini bisa digunakan untuk mendukung doktrin Trinitas. Memang di sini tidak terlihat kesatuan dari pribadi-pribadi itu, tetapi ini dengan mudah bisa didapatkan dari ayat-ayat yang menunjukkan ketunggalan Allah, seperti Ulangan 6:4; Markus 12:32; Yohanes 17:3 1Timotius 2:5 Yakobus 2:19 1 Korintus 8:4, dsb, yang telah saya bahas di depan.

2. Perjanjian Lama menyebut TUHAN (YHWH) sebagai Penebus dan Juruselamat (Mazmur 19:15; 78:35; Yesaya 43:3,11,14; 47:4; 49:7,26 ; 60:16), maka dalam Perjanjian Baru, Anak Allah / Yesus¬lah yang disebut demikian (Matius 1:21 Lukas 1:76-79; 2:11; Yohanes 4:42; Galatia 3:13; 4:5; Titus 2:13).

3. Perjanjian Lama mengatakan bahwa TUHAN (YHWH) tinggal di antara bangsa Israel dan di dalam hati orang-orang yang takut akan Dia (Mazmur 74:2; 135:21; Yesaya 8:18; 57:15; Yehezkiel 43:7,9; Yoel 3:17,21; Zakharia 2:10-11), maka dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa Roh Kuduslah yang mendiami Gereja / orang percaya (Kisah Para Rasul 2:4; Roma 8:9,11; 1 Korintus 3:16; Galatia 4:6; Ef 2:22; Yakobus 4:5).

4. Perjanjian Baru memberikan pernyataan yang jelas tentang Allah yang mengutus AnakNya ke dalam dunia (Yohanes 3:16; Galatia 4:4; Ibrani 1:6; 1 Yohanes 4:9), dan tentang Bapa dan Anak yang mengutus Roh Kudus (Yohanes 14:26; 15:26; 16:7; Galatia 4:6).

5. Dalam Perjanjian Baru kita melihat Bapa berbicara kepada Anak (Markus 1:11) dan Anak berbicara kepada Bapa (Matius 11:25-26; 26:39; Yohanes 11:41; 12:27) dan Roh Kudus berdoa kepada Allah dalam hati orang percaya (Roma 8:26).

6. Perjanjian Baru menunjukkan ketiga pribadi Allah itu disebut dalam satu bagian Kitab Suci. Pada peristiwa baptisan Kristus (Matius 3:16-17); Pada peristiwa Amana Agung (Matius 28:19); Penjelasan Paulus tentang Kharismata atau karunia-karunia Roh (1 Korintus 12:4-6); Berkat Rasuli (2 Korintus 13:13); Tentang kesatuan tubuh Kristus (Efesus 4:4-6); dan pernyataan Petrus (1 Petrus 1:2). Perlu diperhatikan dalam ayat-ayat di atas ini adalah bahwa urut-urutannya tidak selalu Bapa sebagai yang pertama disebutkan, Anak sebagai yang kedua, dan Roh Kudus sebagai yang ketiga. Urut-urutan dbolak-balik, dan ini menunjukkan kesetaraan Mereka. Kalau Bapa memang lebih tinggi dari Anak, maka adalah mustahil bahwa Yesus kadang-kadang ditulis lebih dulu dari Bapa, dan kalau Roh Kudus hanya sekedar merupakan ‘tenaga aktif Allah’, maka juga merupakan sesuatu yang mustahil bahwa ‘tenaga aktif Allah’ itu ditulis lebih dulu dari Allahnya sendiri.

Dalam kasus-kasus tertentu, tiga nama yang diletakkan berjajar bisa menunjukkan bahwa mereka setingkat. Misalnya kalau dikatakan ada konferensi tingkat tinggi tiga negara, maka kalau negara yang satu mengirimkan kepala negara, maka pasti kedua negara yang lain juga demikian. Kalau negara yang satu mengirim menteri luar negeri, maka pasti kedua negara yang lain juga demikian. Jadi, kadang-kadang penyejajaran tiga nama memang bisa menunjukkan bahwa tiga orang itu setingkat. Itu tergan¬tung dari konteksnya; dan karena itu harus dipertanyakan: dalam situasi dan keadaan apa ketiga pribadi itu disebutkan bersama-sama? Dalam ayat-ayat di atas, Bapa, Anak, dan Roh Kudus disebutkan dalam konteks yang sakral, seperti formula baptisan (Matius 28:19), berkat kepada gereja Korintus (2 Korintus 13:13), baptisan Yesus (Matius 3:16-17), dsb. Karena itu ayat-ayat itu bisa dipakai sebagai dasar untuk menunjukkan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu setingkat.

7. Dalam Matius 28:19 dikatakan “dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus”. Secara khusus, frase Yunani yang tertulis di Matius 28:19 yaitu “baptizontes autous eis to onoma tou patros kai tou uiou kai tou agiou pneumatos” yang diterjemahkan menjadi “baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus”, dimana hal yang menarik adalah bahwa sekalipun di sini disebutkan tiga buah nama yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus, tetapi kata kata Yunani “eis to onomo” yang diterjemahkan “dalam nama” adalah nominatif singular (bentuk tunggal, bukan bentuk jamak)! Dalam bahasa Inggris diterjemahkan name (bentuk tunggal), bukan names (bentuk jamak). Karena itu ayat ini bukan hanya menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu setara, tetapi juga menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu adalah satu atau esa. 

PROBLEM TRINITAS 

Mereka yang menyangkali Trinitas kadang-kadang tidak setuju dengan penggunaan istilah-istilah tertentu yang kelihatannya mengimplikasikan bahwa Kristus itu lebih rendah dari Bapa, yang kalau itu benar, maka itu akan menyangkali Trinitas. Beberapa istilah problematik akan di bahas di sini.

1. Arti dari kata “dilahirkan”. Istilah dilahirkan di gunakan di dalam beberapa pengertian sehubungan dengan Kristus. Pertama, berdasarkan Matius 1:20, dinyatakan dengan jelas bahwa Kristus dilahirkan dalam kemanusiaan-Nya bukan dalam keilahian-Nya. Kristus adalah Allah dari sejak kekekalan (Mikha 5:2), tetapi di Bethlehem Ia mengambil natur tambahan, yaitu natur manusia. Roh kudus berperan dalam kandungan Maria untuk menjamin ketidakberdosaan kemanusiaan Kristus. Dengan referensi pada kemanusiaan Kristus maka istilah dilahirkan itu digunakan; kata itu tidak akan pernah digunakan dengan referensi pada keilahian-Nya. Dilahirkan tidak berkaitan dengan keberadaan Yesus sebagai Putra Allah. Dalam ruang dan waktu, Yesus mendeklarasikan diri sebagai Putra Allah. (Mazmur 2:7; Kisah Para Rasul 13:32-33; Roma 1:4). Ayat-ayat ini semua menekankan bahwa keberadaan Yesus sebagai Putra Allah dikukuhkan dan diverifikasi oleh kebangkitan. Jadi, kebangkitan tidak menjadikan Ia Putra Allah. Yesus adalah Putra Allah sejak kekekalan. Jadi, Mazmur 2:7 dan Kisah Para Rasul 13:33 menekankan bahwa dilahirkan menunjuk pada deklarasi publik tentang Kristus sebagai Putra Allah (tetapi bukan asal mula dari Kristus sebagai Putra Allah).

2. Arti dari frase “Anak Sulung”. Mereka yang menyangkal keilahian Kristus seringkali melakukannya dengan menunjuk pada istilah anak sulung, mengartikan bahwa apabila istilah itu berkaitan dengan Kristus maka harus berimplikasi Ia memiliki permulaan dalam waktu. Namun demikian, baik studi leksikal dari kata itu demikian juga studi konteksual dari penggunaan kata itu memberikan solusi yang berbeda akan arti anak sulung. Dalam budaya Perjanjian Lama penekanan utama adalah pada status anak tertua. Ia menikmati dua bagian dari warisan (Ulangan 21:17), hak-hak yang lebih dari anggota keluarga lain (Kejadian 27:1-4, 35-37), perlakuan khusus (Kejadian 43:33), dan penghormatan dari yang lain (Kejadian 37:22). Secara figuratif, kata itu menunjuk pada prioritas atau supremasi (Keluaran 4:22; Yeremia 31:9) dan digunakan untuk Kristus. Di Kolose 1:18 di mana Kristus disebut sebagai anak sulung memberikan arti yang jelas: sebagai yang sulung, Kristus adalah kepala dari Gereja dan paling tinggi dari segalanya. Di Ibrani 1:6 supremasi Kristus sebagai yang sulung tampak dalam hal malaikat-malaikat menyembah Dia. Hanya Allah yang disembah. Mazmur 89:28 mungkin satu dari penjelasan yang paling jelas dari istilah yang sulung. Ini adalah sebuah contoh dari puisi sintetik dalam bahasa Ibrani dimana baris kedua menjelaskan yang pertama. Dalam Mazmur Mesianik ini Allah meneguhkan bahwa Mesias akan menjadi yang sulung, yaitu raja yang tertinggi di bumi ini. Yang sulung dijelaskan memerintah atas para raja di seluruh dunia. Baik dari studi bahasa dan eksegis adalah jelas bahwa yang sulung berfokus pada keutamaan status dari Yesus sebagai Mesias.

3. Arti dari frase “Anak Tunggal”. Istilah anak tunggal (Yunani monogenes) (lihat: Yohanes 1:14, 18; 3:16; 1 Yohanes 4:9) tidak berarti titik awal dalam waktu tetapi bahwa Yesus adalah Anak Tunggal Allah yang “unik”, “hanya satu-satunya dan tidak ada yang lain sejenis Dia”, “satu-satunya contoh dari kategorinya”. Anak tunggal “digunakan untuk menandai keunikan Yesus di atas semua keberadaan di dunia dan di surga”. Di Kejadian 22:2, 12, 16 mencerminkan konsep dari “hanya, berharga” sebagaimana Ishak dipandang oleh ayahnya, Abraham. Rasul Yohanes menjabarkan kemuliaan yang terpancar dalam keunikan Putra Allah, tidak ada siapapun yang memancarkan kemuliaan Allah (Yohanes 1:14); lebih dari itu, Anak “menjelaskan” Bapa, di mana tidak ada siapapun, kecuali Putra Allah yang dapat menjelaskan Bapa. Putra Allah yang unik, yang Allah utus ke dunia; hidup kekal disediakan hanya melalui Putra Allah yang unik (Yohanes 3:16). Dalam mempelajari bagian itu adalah jelas bahwa Anak Tunggal tidak berarti menjadi berada, tetapi mengekspresikan keunikan dari pribadi itu. Kristus adalah Unik sebagai Putra Allah, yang diutus oleh Bapa dari Surga.

PENUTUP

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, bersama dengan dengan R.C Sproul kita dapat berkata bahwa “doktrin Trinitas menjelaskan batas pemikiran kita yang terbatas. Doktrin Trinitas menuntut kita untuk setia pada wahyu Ilahi yang menyatakan bahwa dalam satu pengertian Allah adalah esa dan dalam pengertian lainnya Dia adalah tiga” . Selanjutnya Sproul menyimpulkan bahwa:

Pertama, doktrin Trinitas meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga pribadi.

Kedua, doktrin Trinitas bukan merupakan suatu kontradiksi melainkan paradoksi: Allah memiliki satu esensi dan tiga pribadi.

Ketiga, Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) meneguhkan baik keesaan Allah dan Keilahian dari Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Keempat, ketiga Pribadi di dalam Trinitas dibedakan melalui karya yang dilakukan oleh Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Kelima, Doktrin Trinitas memberikan batasan kepada spekulasi manusia tentang natur Allah.

DAFTAR REFERENSI YANG DIANJURKAN:

Arrington, French L., 2004. Christian Doctrine A Pentacostal Perspective, Jilid 1. Terjemahan, Penerbit Departemen Media BPS GBI: Jakarta 
Berkhof, Louis., 2011. Systematic Theology. Jilid 1, Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta. 
Boice, James M., 2011. Fondations Of The Christian Faith: A Comprehensive And Readable Theology. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta 
Conner, Kevin J., 2004. The Fondation of Christian Doctrine. Terjemahan, Pernerbit Gandum Mas: Malang. 
Cornish, Rick., 2007. Five Minute Theologian. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya: Bandung. 
Cornish, Rick., 2007. Five Minute Church Historian. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya: Bandung. 
Daun, Paulus., 1994. Bidat-Bidat Kristen dari Masa ke Masa. Yayasan Daun Family: Manado.
Drewes, B.F, Wilfrid Haubech & Heinrich Vin Siebenthal., 2008. Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jilid 1 & 2. Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta.
Enns, Paul., 2004. The Moody Handbook of Theology, jilid 1 & 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang. 
Enns, Paul., 2000. Approaching God, jilid 1. Terjemahan, Penerbit Interaksara: Batam. 
Erickson J. Millard., 2003. Christian theology. Jilid 1 & 2. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang. 
Frame, John M., 2010. Apologetics To The Glory Of God: An Introduction. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta. 
Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House: Grand Rapids, Michigan. 
Grudem, Wayne., 2009. Christian Beliefs. Terjemahan, Penerbit Metanonia Publising: Jakarta. 
Kennedy, D. James., 2000. Why I Believe. Terjemahan, Penerbit Interaksara: Batam. 
Letham, Robert., 2011. The Holy Trinity: In Scripture, History, Theology, and Worship. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta. 
Lewis, C.S., 2006. Mere Christianity. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya: Bandung. 
Matindas, B.E., 2010. Meruntuhkan Benteng Ateisme Modern, Penerbit Andi Offset: Yogyakarta. 
Milne, Bruce., 1993. Knowing The Truth : A Handbook of Christian Belief. Terjemahan (1993). Penerbit BPK: Jakarta. 
Mounce, William D., 2011. Basics of Biblical Greek, edisi 3. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang. 
Ryrie, Charles C., 1991. Basic Theology. Jilid 1 dan 2, Terjemahan, Penerbit Andi Offset: Yoyakarta. 
Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang. 
Sproul, R.C., 2008. Defending Your Faith: An Introduction To Apologetics. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang. 
Strobel, Lee., 2002. The Case For Christ. Terjemahan, Penerbit Gospel Press: Batam. 
Susabda, Yakub B., 2010. Mengenal dan Bergaul Dengan Allah. Penerbit Andi Offset: Yoyakarta. 
Susanto, Hasan., 2003.Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang. 
Tabb, Mark, ed., 2011. Theology. Terjemahan, Penerbit Yayasan Gloria: Yogyakarta. 
Thiessen, Henry C., 1992. Lectures in Systematic Theology, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang. 
Tong, Stephen., 2012. Allah Tritunggal. Edisi Revisi, Penerbit Momentum: Jakarta. 
Urban, Linwood., 2006. Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen. Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta. 
Van Til, Cornelius., 2010. An Introduction to Systematic Theolog: Prolegomena and the Doctrine of Revelation, Scripture, and God. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta. 
Williamson, G.I., 2012. Westminster Confession Of Faith. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta. 
Wongso, Peter., 1992. Sejarah Gereja. Seminari Alkitab Asia Tenggara: Malang.

(Pdt. Samuel T. Gunawan adalah teolog Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya)

Sumber :artikel.sabda.org

image

Menabur Benih Kegigihan

Siang itu saya mendapati raut wajah anak saya sedih dan marah tanpa saya ketahui apa sebab musababnya.

Ketika itu saya baru menghabiskan sekian puluh menit guna mencuci keset-keset yang ada di rumah saya. Ternyata kesibukan saya itu membuat saya kehilangan konteks. Meskipun saya tidak tahu pasti apa yang sudah terjadi, tetapi saya berusaha melempar kalimat-kalimat penghiburan.


Saya tahu bahwa dia suka makan masakan yang pakai bawang bombai sebagai bumbunya.

“Sudah makan, Chris?”Kalimat itu rupanya hanya sebagai angin lalu saja tanpa jawaban “sudah” ataupun “belum”.

Wah, gawat, rupanya sedihnya sedalam lautan.

“Ada Ayam Saus Inggris lho … dari ‘Restoran Bareng’,” saya bercanda. Karena sesungguhnya di dunia ini tidak ada “Restoran Bareng”. “Bareng” adalah kampung tempat tinggalku.

Hari itu adalah hari libur, jadi saya bisa memasak menu yang sedikit istimewa. Ada kelonggaran waktu untuk berlama-lama di dapur.

Ayam dipotong-potong, lalu dicuci dan direbus sampai matang. Lalu, angkat dan tiriskan.

Langkah kedua, ayam digoreng sampai kering.

Langkah ketiga, kupas bawang bombai, cuci lalu iris tipis. Cuci tomat lalu iris tipis. Tumis bawang bombai sampai harum lalu tambahkan irisan tomat, dan tumis sampai layu. Tambahkan Saus Inggris, kecap manis, dan saus tomat. Tambah gula pasir, garam, dan lada. Setelah bumbu tercampur rata, tambahkan ayam goreng dan aduk rata. Lalu, matikan api dan masakan siap dihidangkan.

Mudah, bukan? Tetapi jangan ragukan kenikmatannya. Engkau pasti suka. Itu tidak kalah sedap dari masakan restoran. Maka saya berujar dengan nada canda bahwa itu dari “Restoran Bareng”.

Jika engkau membaca dengan teliti, pasti engkau ingat ada berapa langkah dalam proses memasak itu. Ada tiga langkah. Nah, itu dia …. Memasak tiga langkah seperti itu adalah kemewahan bagi saya dari segi waktu.

Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya harus tersedia makanan sehat bergizi untuk suami dan anak-anak. Dan, jangan lupa poin “nikmat”. Pada hari kerja saya miskin waktu di dapur. Memasak sambil berlomba waktu.

Bawang bombai tak berhasil menghapus kesedihan Christo. Lalu detik-detik di siang itu menjadi menit-menit yang senyap.

Sore datang menjelang dan Christo terbangun dari tidurnya.

Dia bersuara,

“Ma, tolong antar ke Tidar. Sepatuku ketinggalan.”

“Ketinggalan di mana?”

“Di tempat soccer.”

Wah …??????

Pantas siang tadi mukanya panjang.

“Kok bisa ketinggalan?”

“Iya, tadi aku telepon, terus disuruh Papa jalan kaki pulangnya.”

Pantas hatinya jengkel sekali. Bagaimana tidak? Sudah capai setelah main soccer dan minta jemputan, tetapi berhembus angin buruk. Capainya berlipat dua dengan berjalan kaki untuk berpulang. Setiap langkah sepanjang tiga setengah kilometer adalah langkah-langkah tanpa keceriaan.

Senja itu kami naik motor memecah udara lembab karena hujan baru usai.

Di depan lapangan soccer, di tepi jalan saya menunggu. Kubiarkan Christo berusaha mencari sendiri sepatunya yang ketinggalan itu.

Sekitar sepuluh menit telah berlalu dan Christo menjumpaiku dengan tangan kosong dan kabar buruk.

Saya tidak mau menyerah begitu saja.

Lalu kuparkir motorku dan kami berdua masuk ke lapangan soccer itu. Saya mencari dengan teliti di sana sini. Tak ada sesuatu yang menggembirakan. Saya melongok ke tong-tong sampah. Mungkin saja ada orang yang menganggap sepatu yang tertinggal itu sebagai sampah dan kemudian memasukkannya di tong sampah.

Kami menjumpai petugas dan saya menjelaskan duduk perkaranya. Petugas itu menjelaskan bahwa dia baru bertugas sore itu sedangkan peristiwa kehilangan sepatu itu siang dan ada petugas lain yang sudah pulang.

“Apakah tidak ada pesan?”

“Tidak ada.”

“Apakah tidak ada titipan barang?”

“Tidak ada.”

“Tolong diperiksa. Mungkin ada barang yang dititipkan di kantor ini.”

Saya sebagai saksinya, petugas itu memeriksa ke segala penjuru kantor itu. Sembari itu, mata saya juga memeriksa keliling kantor itu. Usaha kami tidak berhasil.

Saya tidak mau menyerah begitu saja.

“Apa tidak ada satpam di sini?”

“Apa tidak ada cara supaya sepatu itu bisa ketemu?”

Lalu petugas itu berkata, “Di sini ada CCTV, tetapi sekarang kantor sudah tutup. Saya bisa minta petugas kantor pagi untuk memutar rekaman CCTV siang tadi.”

Ada secercah harapan.

Lalu petugas itu mencatat nomor HP Christo supaya bisa dihubungi. Berikut catatan tentang ciri-ciri sepatu dan tas sepatu. Dan, Christo juga mencatat nomor HP kantor lapangan soccer itu.

Kedatangan kami di rumah disambut dengan kalimat-kalimat mematikan.

“Tidak bakalan ketemu.”

“Itu pasti hilang.”

Ya … setidaknya saya sudah berusaha mencarinya dan tentu berdoa. Itu memang adalah tempat umum, tempat di mana banyak orang datang dan pergi. Tetapi ada prosedur yang menguntungkan kami yaitu bagi pengunjung yang ingin menyewa lapangan soccer itu diharuskan meninggalkan nama dan nomor HP.

Kalau sungguh-sungguh hilang bagaimana? Kalau hilang sayang. Nilainya sekitar enam bulan uang saku Christo. Bagi orang sederhana seperti kami, banyak barang yang biasa menjadi mahal nilainya.

Kalau ketemu lumayan. Setidaknya tidak berpikir lagi untuk membeli penggantinya.

Pada dasarnya saya tidak suka mencatat sad ending. Jadi, jelas bahwa kisah nyata tentang kehilangan sepatu soccer ini berakhir dengan happy ending, sebagaimana Tuhan Yesus mengisahkan domba yang hilang dan ditemukan. Maknailah itu sebagai spirit kegigihan.

Hari berikutnya Christo berjalan kaki pergi dan pulang ke lapangan soccer itu. Walaupun sekitar tujuh kilometer, itu pasti tidak akan melelahkan. Setiap langkah selalu terasa ringan karena dia tahu bahwa dia akan pulang dengan sepatu keberuntungannya. Dan, pasti dia menangkap sebutir kegigihan sebagai salah satu bekal untuk sisa hidupnya.

19 Januari 2015,

Yvonne Sumilat menabur benih kegigihan di penghujung tahun 2014.

Sumber :artikel.sabda.org

- Bpk. Markus Kusni (Akademik)
0813 2444 6677

-Bpk. Liston P (Kemahasiswaan)
0813 2030 3492

-Bpk. Robert (Pendaftaran)
0852 2400 0771

© Copyright 2019 STT STAPIN Majalengka. All rights reserved.