Pelayanan Gereja

Sebut saja dia Jono. Seorang guru agama Kristen di sebuah sekolah menengah negeri yang cukup terkenal. Beberapa tahun terakhir ini dia semakin giat dengan apa yang dia sebut sebagai panggilan pelayanan. Entah mengapa semakin banyak saja undangan untuk menyampaikan khotbah atau membawakan renungan di berbagai acara persekutuan dan gereja yang dia terima.

Jono begitu bersemangat, baginya ini adalah kepercayaan yang besar dari Tuhan untuk dirinya. Penampilannya pun berubah. Sekarang dia lebih sering terlihat mengenakan kemeja lengan panjang celana kain lengkap dengan dasi dibandingkan baju safari. Satu stel jas selalu dia siapkan di mobilnya. Pantang bagi Jono menolak undangan khotbah yang dia terima. “Firman harus disampaikan siap atau tidak siap waktunya”. Mungkin itu semboyan dia. Sekarang dia mendapat titel baru Ev. Jono .

Perubahan Jono sebenarnya kurang bisa diterima oleh beberapa rekan guru di tempatnya mengajar saat ini. Bahkan banyak muridnya yang mengeluh. Karena Jono lebih sering meninggalkan jam-jam dimana dia seharusnya mengajar, menggantikannya dengan setumpuk tugas yang selalu ia titipkan ke guru jaga. Tapi begitulah Jono, bahkan ketika berdiri di antara barisan guru saat upacara bendera pun dia terlihat berbeda. Lebih mirip manajer daripada guru. Beberapa kali mendapat teguran kiri kanan, Jono tetap stabil meskipun digunjingkan dia tidak bergeming sebab dia akan siap dengan jawaban “atas nama pelayanan”. Gunjingan dan pengucilan adalah harga yang harus dibayar dan salib yang harus dipikul.

Suatu hari mungkin kita pernah menghadapi atau bertemu dengan Jono-jono yang lain. Alasan dan cara Jono menanggapi kesempatan melayani Tuhan memang tidak seratus persen salah. Hanya saja dia belum mengetahui makna dari melayani seperti maksud Tuhan. Jono lupa bahwa tugasnya sebagai guru juga adalah pelayanan. Tuhan tidak melihat besar kecilnya apa yang kita kerjakan, yang Tuhan lihat adalah bagaimana sikap dan tanggung jawab kita terhadap pekerjaan kita itu. Setiap manusia menjalankan beberapa peran dan tugas dalam hidupnya baik dalam pekerjaan, sebagai orangtua, sebagai anak, sebagai istri maupun sebagai suami. Tuhan ingin agar manusia bisa menjalankan semua peran yang mereka miliki dengan seimbang. Yang satu tidak boleh lebih penting dari yang lain. Jono lupa akan tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan Tuhan dan dipercayakan kepadanya tugas sebagai guru, pelayanan sebagai penginjil tidak lebih mulia dari ugas sebagai guru. Keberhasilan pelayanan Jono menimbulkan ketidak seimbangan yang menyebabkan batu sandungan bagi orang lain. Mungkin sudah saatnya bagi Jono untuk memutuskan mengundurkan diri sebagai guru dan mendedikasikan dirinya menjadi pelayan Tuhan penuh waktu. Dengan demikian dia akan memiliki fokus pelayanan yang jelas. Dan tidak lagi menjadi batu sandungan. Memang tetap ada kemungkinan untuk bisa kedua-duanya dilakukan bersamaan, tapi terbukti Jono tidak mampu.

Menjadi militan dihadapan Tuhan memang suatu keharusan. Dan Tuhan senang dengan kesungguhan dan keteguhan hati kita mencari Dia dan dalam pelayanan kita kepada-Nya. Tapi jika sikap militan kita justru mendatangkan syak menimbulkan ketidak seimbangan diantara peran-peran yang menjadi tugas dan tanggung jawab yang harus kita pikul yang akhirnya menmbulkan batu sandungan, maka sudah pasti ada yang salah.

Lebih baik kita belajar setia dengan perkara kecil yang diberikan Tuhan kepada kita dari pada mencoba meraih perkara besar yang kita sendiri tidak mampu melakukannya bukan?

Sumber : artikel.sabda.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *