Menabur Benih Kegigihan

Siang itu saya mendapati raut wajah anak saya sedih dan marah tanpa saya ketahui apa sebab musababnya.

Ketika itu saya baru menghabiskan sekian puluh menit guna mencuci keset-keset yang ada di rumah saya. Ternyata kesibukan saya itu membuat saya kehilangan konteks. Meskipun saya tidak tahu pasti apa yang sudah terjadi, tetapi saya berusaha melempar kalimat-kalimat penghiburan.


Saya tahu bahwa dia suka makan masakan yang pakai bawang bombai sebagai bumbunya.

“Sudah makan, Chris?”Kalimat itu rupanya hanya sebagai angin lalu saja tanpa jawaban “sudah” ataupun “belum”.

Wah, gawat, rupanya sedihnya sedalam lautan.

“Ada Ayam Saus Inggris lho … dari ‘Restoran Bareng’,” saya bercanda. Karena sesungguhnya di dunia ini tidak ada “Restoran Bareng”. “Bareng” adalah kampung tempat tinggalku.

Hari itu adalah hari libur, jadi saya bisa memasak menu yang sedikit istimewa. Ada kelonggaran waktu untuk berlama-lama di dapur.

Ayam dipotong-potong, lalu dicuci dan direbus sampai matang. Lalu, angkat dan tiriskan.

Langkah kedua, ayam digoreng sampai kering.

Langkah ketiga, kupas bawang bombai, cuci lalu iris tipis. Cuci tomat lalu iris tipis. Tumis bawang bombai sampai harum lalu tambahkan irisan tomat, dan tumis sampai layu. Tambahkan Saus Inggris, kecap manis, dan saus tomat. Tambah gula pasir, garam, dan lada. Setelah bumbu tercampur rata, tambahkan ayam goreng dan aduk rata. Lalu, matikan api dan masakan siap dihidangkan.

Mudah, bukan? Tetapi jangan ragukan kenikmatannya. Engkau pasti suka. Itu tidak kalah sedap dari masakan restoran. Maka saya berujar dengan nada canda bahwa itu dari “Restoran Bareng”.

Jika engkau membaca dengan teliti, pasti engkau ingat ada berapa langkah dalam proses memasak itu. Ada tiga langkah. Nah, itu dia …. Memasak tiga langkah seperti itu adalah kemewahan bagi saya dari segi waktu.

Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya harus tersedia makanan sehat bergizi untuk suami dan anak-anak. Dan, jangan lupa poin “nikmat”. Pada hari kerja saya miskin waktu di dapur. Memasak sambil berlomba waktu.

Bawang bombai tak berhasil menghapus kesedihan Christo. Lalu detik-detik di siang itu menjadi menit-menit yang senyap.

Sore datang menjelang dan Christo terbangun dari tidurnya.

Dia bersuara,

“Ma, tolong antar ke Tidar. Sepatuku ketinggalan.”

“Ketinggalan di mana?”

“Di tempat soccer.”

Wah …??????

Pantas siang tadi mukanya panjang.

“Kok bisa ketinggalan?”

“Iya, tadi aku telepon, terus disuruh Papa jalan kaki pulangnya.”

Pantas hatinya jengkel sekali. Bagaimana tidak? Sudah capai setelah main soccer dan minta jemputan, tetapi berhembus angin buruk. Capainya berlipat dua dengan berjalan kaki untuk berpulang. Setiap langkah sepanjang tiga setengah kilometer adalah langkah-langkah tanpa keceriaan.

Senja itu kami naik motor memecah udara lembab karena hujan baru usai.

Di depan lapangan soccer, di tepi jalan saya menunggu. Kubiarkan Christo berusaha mencari sendiri sepatunya yang ketinggalan itu.

Sekitar sepuluh menit telah berlalu dan Christo menjumpaiku dengan tangan kosong dan kabar buruk.

Saya tidak mau menyerah begitu saja.

Lalu kuparkir motorku dan kami berdua masuk ke lapangan soccer itu. Saya mencari dengan teliti di sana sini. Tak ada sesuatu yang menggembirakan. Saya melongok ke tong-tong sampah. Mungkin saja ada orang yang menganggap sepatu yang tertinggal itu sebagai sampah dan kemudian memasukkannya di tong sampah.

Kami menjumpai petugas dan saya menjelaskan duduk perkaranya. Petugas itu menjelaskan bahwa dia baru bertugas sore itu sedangkan peristiwa kehilangan sepatu itu siang dan ada petugas lain yang sudah pulang.

“Apakah tidak ada pesan?”

“Tidak ada.”

“Apakah tidak ada titipan barang?”

“Tidak ada.”

“Tolong diperiksa. Mungkin ada barang yang dititipkan di kantor ini.”

Saya sebagai saksinya, petugas itu memeriksa ke segala penjuru kantor itu. Sembari itu, mata saya juga memeriksa keliling kantor itu. Usaha kami tidak berhasil.

Saya tidak mau menyerah begitu saja.

“Apa tidak ada satpam di sini?”

“Apa tidak ada cara supaya sepatu itu bisa ketemu?”

Lalu petugas itu berkata, “Di sini ada CCTV, tetapi sekarang kantor sudah tutup. Saya bisa minta petugas kantor pagi untuk memutar rekaman CCTV siang tadi.”

Ada secercah harapan.

Lalu petugas itu mencatat nomor HP Christo supaya bisa dihubungi. Berikut catatan tentang ciri-ciri sepatu dan tas sepatu. Dan, Christo juga mencatat nomor HP kantor lapangan soccer itu.

Kedatangan kami di rumah disambut dengan kalimat-kalimat mematikan.

“Tidak bakalan ketemu.”

“Itu pasti hilang.”

Ya … setidaknya saya sudah berusaha mencarinya dan tentu berdoa. Itu memang adalah tempat umum, tempat di mana banyak orang datang dan pergi. Tetapi ada prosedur yang menguntungkan kami yaitu bagi pengunjung yang ingin menyewa lapangan soccer itu diharuskan meninggalkan nama dan nomor HP.

Kalau sungguh-sungguh hilang bagaimana? Kalau hilang sayang. Nilainya sekitar enam bulan uang saku Christo. Bagi orang sederhana seperti kami, banyak barang yang biasa menjadi mahal nilainya.

Kalau ketemu lumayan. Setidaknya tidak berpikir lagi untuk membeli penggantinya.

Pada dasarnya saya tidak suka mencatat sad ending. Jadi, jelas bahwa kisah nyata tentang kehilangan sepatu soccer ini berakhir dengan happy ending, sebagaimana Tuhan Yesus mengisahkan domba yang hilang dan ditemukan. Maknailah itu sebagai spirit kegigihan.

Hari berikutnya Christo berjalan kaki pergi dan pulang ke lapangan soccer itu. Walaupun sekitar tujuh kilometer, itu pasti tidak akan melelahkan. Setiap langkah selalu terasa ringan karena dia tahu bahwa dia akan pulang dengan sepatu keberuntungannya. Dan, pasti dia menangkap sebutir kegigihan sebagai salah satu bekal untuk sisa hidupnya.

19 Januari 2015,

Yvonne Sumilat menabur benih kegigihan di penghujung tahun 2014.

Sumber :artikel.sabda.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *